(pcs)

Organisasi Manajemen Barcode Indonesia

Tuesday, November 18th 2014.

Organisasi Manajemen Barcode Indonesia

 

GS1 Indonesia adalah satu-satunya organisasi yang diberi wewenang oleh GS1 Global mengalokasikan dan mengurus penomoran barcode standard GS1 System di Indonesia (dahulu bernama EAN Indonesia). Berikut ini beberapa langkah dalam melakukan registrasi barcode untuk produk dagang serta prosedur penggunaan barcode jika Anda ingin memasarkannya ke pasar umum dan luas (public).

1.  Mendapatkan Company Prefix GS1. Langkah pertama apabila perusahaan merencanakan untuk menggunakan barcode pada produknya adalah dengan menentukan nomor identifikasi yang akan dimasukan ke dalam barcode. Nomor-nomor tersebut dinamakan kunci identifikasi GS1 system.

Kunci identifikasi GS1 system didapat dengan mendaftar ke GS1 Indonesia. Sebagai anggota GS1 Indonesia, perusahaan akan mendapatkan nomor Company Prefix GS1 yang nanti akan digunakan sebagai dasar identifikasi secara unik untuk di jalur supply chain. Saat ini GS1 System dipakai oleh lebih dari 1 juta perusahaan di seluruh dunia.

 

2.  Pemberian Nomor. Setelah mendapat nomor Company Prefix GS1, perusahaan siap mulai memberikan nomor identifikasi kepada trade itemnya (produk atau jasa), lokasi, unit logistik, asset perusahaan (individual asset dan returnable asset), service relationship dan penggunaan khusus lainnya.

contoh penomoran barcode

contoh penomoran barcode

 

Prosesnya sangat mudah dan dapat dipelajari bagaimana cara memformat masing-masing nomor Company Frefix GS1 (gabungan antara kode negara dan kode perusahaan) dikombinasikan dengan nomot item referensi/kode produk yang telah ditemukan oleh perusahaan. GS1 Indonesia memberikan fasilitas training mengenai GS1 system kepada anggota maupun masyarakat umum.

 

3.  Pemilihan Perusahaan Percetakan Barcode. Langkah awal, kita harus memutuskan apa saja yang akan di-barcode dan apakah barcpde tersebut akan memuat informasi statis atau dinamis di dalamnya. Contoh informasi statis adalah identifikasi produk secara sederhana mrnggunakan GTIN pada kemasan produk. Contoh informasi dinamis biasanya akan tercetak nomor serial pada label seperti pada label unit logistik.

contoh film master barcode

contoh film master barcode

 

Jika barcode hanya memuat informasi statis dan untuk itu dibutuhkan jumlah label yang besar maka kita dapat meminta perusahaan percetakan untuk mencetak label tersebut dan jika kita hanya butuh label dalam jumlah kecil atau ingin mencetak label dengan informasi dinamis maka yang kita butuhkan adalah on-demand printar seperti laser printer atau thermal transfer printer.

Dalam merencanakan implementasi barcode yang baik adalah dengan mengetahui bagaimana barcode tersebut akan dicetak.

Adapun beberapa pertimbangan dalam proses percetakan bisa Anda lihat dibawah ini.

a. Pertimbangan akhir paling utama untuk ukuran simbol adalah kapasitas dari proses printing yang dipilih. Ukuran minimum (magnification) dan Bar Width Reduction (BWR) yang tepat untuk simbol bervariasi tergantung proses percetakannya. Perusahaan percetakan harus mengetahui ukuran simbol minimum dan BWR agar dapat menghasilkan barcode dengan kualitas yang dapat diterima.

b. GS1 Indonesia dapat membentuk anggotanya untuk membuatkan film master barcode sesuai standar GS1. Film master tersebut digunakan untuk mencetak barcode pada kemasan.

 

4.  Pemilihan Lingkungan Pembacaan/Scanning. Spesifikasi untuk tipe barcode, ukuran, penempatan, serta kualitas, semuanya tergantung dimana pembacaan barcode tersebut akan dilakukan.

Empat dasar ruang lingkup pembacaan/scanning untuk trade item adalah sebagai berikut:

a. Kemasan produk di-scan pada retail point of sale (POS).

b. Kemasan produk di-scan pada distribusi umum.

c. Kemasan produk di-scan pada POS tetapi juga di-scan pada distribusi.

d. Lingkungan khusus seperti penandaan pada alat-alat medis.

Dengan mengetahui dimana barcode akan di-scan maka kita dapat membuat spesifikasi yang tepat pada saat barcode tersebut mulai di produksi. Sebagai contoh, jika sebuah kemasan produk di-scan pada point of sale (POS) dan distribusi umum, maka kita harus menggunakan simbol EAN/UPC untuk mengakomodasitetapi mencetaknya dalam ukuran yang lebih besar untuk mengakomodasi pembacaan scanner di distribusi/gudang dan pastikan penempatannya memenuhi syarat pembacaan secara otomatis.

 

5.  Pemilihan Jenis Simbologi Barcode. Memilih jenis simbologi barcode yang tepat adalah sangat penting dalam menentukan keberhasilan rencana pengimplementasian barcode dalam perusahaan yang Anda pimpin. di bawah ini beberapa tips yang bisa Anda jadikan acuan:

a. Jika barcode trade item akan di-scan pada point of sale retail, Anda harus menggunakan simbol EAN/UPC (UPC-A, UPC-E, GS1-8, GS1-13).

b. Jika Anda mencetak barcode dengan berbagai macam informasi tambahan, seperti nomor seri, tanggal expired atau ukuran maka digunakan simbol GS1-128, GS1 DataBar (RSS) atau pada kasus, khusus digunakan Composite Component atau dimbol GS1 Data Matrix.

c. Jika Anda ingin mencetak barcode yang hanya memuat nomor GTIN pada corrugated carton/outer box, maka dipilih simbol ITF-14.

6.  Perencanaan Ukuran Barcode. Setelah simbol barcode sesuai ditentukan dan digabungkan dengan informasi yang akan di kodekan ke dalamnya maka dimulailah tahap desain. Ukuran simbol didalam desain tergantung pada jenis simbol yang dipilih, dimana simbol akan digunakan, dan bagai mana simbol itu dicetak. Yang tak kalah penting adalah ruang/spaceyang tersedia pada kemasan untuk menempatkan barcode tersebut.

Berikut dibawah ini gambaran penentuan ukuran barcode.

a. Simbol EAN/UPC. Berbeda dengan simbol ITF-14 DAN GS1-128 karena simbol EAN/UPC di-scan pada retail menggunakan omni directional scanner. Simbol EAN/UPC mempunyai ukuran yang tetap antara tinggi dan lebar simbol. Apabila ingin mengubahsalah satu ukurannya maka ukuran yang lain harus diubah secara proporsional. Ukuran nominal tinggi dan lebar yang diperbolehkan adalah 80% hingga 200%. Dibawah ini bisa Anda lihat beberapa contoh ukuran barcode EAN-13.

EAN/UPC Magnification Minimum 80%

EAN/UPC Magnification Minimum 80%

EAN/UPC Nominal 100%

EAN/UPC Nominal 100%

Untuk memperkecil ukuran simbol EAN/UPC harus dilakukan pada saat mendesain kemasan, memotong tinggi ukuran yang sudah ada, atau disebut truncation, tidak diperbolehkan di dalam spesifikasi simbologi EAN/UPC dan harus dihindari karena hal tersebut akan berpengaruh buruk terhadap scanning rate untuk omni directional scanner retail. Apabila simbol EAN/UPC digunakan di logistik (shipping dan distribusi) dan juga pada point of sale (POS), magnification yang diperbolehkan berkisar antara 150% sampai 200%. Contohnya, simbol pada karton yang digunakan untuk peralatan besar, misalnya tv atau oven microwave.

b. Simbol ITF-14 dan GS1-128. Juga mempunyai ukuran jarak yang sudah ditentukan. Ukuran simbol ITF-14 dan GS1-128 seringkali ditentukan oleh lebar dari X-Dimension, bukan dari magnificationnya. Ukuran GS1-128 bervariasi tergantung dari jumlah informasi tambahan yang akan dimasukan ke dalam barcodenya, tetapi maksimum 48 karakter. Di baawah ini bisa Anda lihat beberapa contoh ukuran barcode ITF-14 dan GS1-128.

GS1-128 Nominal (100%)

GS1-128 Nominal (100%)

ITF-14 Nominal (100%)

ITF-14 Nominal (100%)

 

7.  Perencanaan Format Teks Barcode. Teks di bawah barcode sangat penting karena jika barcode rusak atau kualitasnya rendah maka teks itu dapat digunakan sebagai back-up datanya. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar format teks pada simbol barcode, silahkan simak Frequently Asked Question berikut ini:

a. Apakah Human Readable Interpretation harus mempunyai ukuran tertentu?

b. Huruf OCR-B semula ditentukan untuk digunakan pada simbol EAN/UPC, tetapi spesifikasi GS1 System sekarang memperbolehkan huruf apa saja sepanjang huruf tersebut jelas dan dapat dibaca.

c. Apakah Human Readable Interpretation harus diletakan diatas atau di bawah? tergantung kepada simbol yang kita pergunakan. Untuk simbol EAN/UPC teks dicetak di bawah simbol. Teks simbol ITF-14 dan GS1-128 dapat di cetak di atas atau di bawah simbol.

d. Apakah tanda kurang (parentheses) pada Application identifiers (AI) didalam simbol GS1-128 harus selalu digunakan dan apakah tanda kurang tersebut dikodekan ke dalam simbol barcode? Seluruh AI harus dimasukan ke dalam tanda kurang di dalam Human Readable Interpretation, tetapi tanda kurang tersebut tidak dikodekan di dalam simbol.

e. Berapa digit yang harus tercetak di bawah simbol EAN/UPC pada Human Readable Teks? Di bawah simbol UPC-A kita harus mencetak 12 digit, tanda kekecualian, tidak lebih tidak kurang.

Di bawah simbol EAN-13 kita harus mencetak 13 digit, tanpa kekecualian, tidak lebih tidak kurang.

Di bawah simbol EAN-8 kita harus mencetak 8 digit, tanpa kekecualian, tidak lebih tidak kurang.

8.  Perencanaan Pemilihan Warna Barcode. Kombinasi warna yang optimum untuk simbol barcode adalah warna hitam untuk garis dan putih untuk background (space dan quiet zones). Jika Anda ingin menggunakan warna lain, penjelasan berikut ini mungkin dapat membantu Anda dalam memilih warna yang diinginkan.

a. Simbol barcode GS1 membutuhkan warna gelap untuk garis (misalnya hitam, biru tua, coklat tua, atau hijau tua)

b. Garis harus selalu terdiri dari warna tunggal dan jangan pernah di cetak dengan berbagai alat imaging (misal plate, screen, cylinder).

c. Simbol bar code GS1 membutuhkan background terang untuk space dan queit zones (misal warna putih).

d. Jika kita menggunakan multiple layer dari tinta untuk meningkatkan opacity pada background, setiap layer harus dicetaksecara solid.

e. Jika kita menggunakan fine screen untuk menghantarkan tinta ke substrate, pastikan tidak ada kekosongan di dalam proses pencetakan yang disebabkan karena screen tersebut tidak cukup terisi.

Di bawah ini bisa Anda lihat jenis-jenis kombinasi warna antara background, bar/baris dan tulisan barcode.

Perencanaan Pemilihan Warna Barcode

Sekali lagi, dengan tetap menggunakan garis warna hitam dan space putih, kita telah memilih kombinasi yang optimum, tetapi bukan berarti kombinasi warna lain tidak dapat digunakan. Konsultasi hal ini dengan perusahaan percetakan.

9.  Perencanaan Penempatan Barcode. Penempatan simbol sebaiknya direncanakan pada saat mendesain kemasan. Pertimbangkan pula proses kemasannya. Konsultasikan dengan staf bagian kemasan untuk memastikan simbol tidak akan buram atau rusak, misal diletakan di sisi koran, dibawah lipatan karton, di bawah tutup kemasan atau tertutup oleh tingkat kemasan yang lain.

Setelah ditentukan penempatannya, konsultasikan dengan perusahaan percetakan karena beberapa proses pencetakan mensyaratkan barcode harus di cetak dengan orientasi khusus agar arahnya sesuai dengan web atau sheet.

Jika memungkinkan, pada saat menggunakan printing flexographic, garis harus berjalan paralel dengan arah tekanan web atau orientasi picket fence. Jika garis dibutuhkan tegak lurus dengan arah tekanan atau ladder orientation, hindari distorsi simbol pada lingkaran plate roll.

Apabila menggunakan proses printing silk screen atau rotogravure, simbol harus lurus paralel dengan struktur cell pada screen atau gravure plate cylinder agar didapat garis tepi paling halus yang memungkinkan.

 

10.  Verifikasi kualitas Barcode. Sntandar ISO/IEC 15416 Bar Code Print Quality Test Specifications untuk simbologi linear merupakan metode yang dipakai oleh GS1 dalam menghitung kualitas simbol barcode setelah barcode tersebut dicetak. Verifikasi barcode sangat penting walaupun produk tersebut bukan untuk tujuan ekspor. Dengan verifikasi dapat dihindari terjadinya kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan cetak dan kegagalan baca alat scanner pada barcode yang tidak standar sehingga tujuan dari otomatisasi itu sendiri tidak tercapai terutama pada point of sale (POS) di retail.

Selain itu juga untuk memastikan bahwa nomor-nomor yang dikodekan pada produk tersebut diwakili oleh barcode secara benar. Proses verifikasi dilakukan sebelum barcode dicetak pada kemasan secara massal.

Rp (Hubungi CS)
Rp 3.500.000
Rp (Hubungi CS)
Rp (Hubungi CS)
Rp (Hubungi CS)
Scanner Barcode Postronix 2DSCAN

15%

Rp 2.990.000 3.500.000
paket komputer kasir siap pakai

Pengiriman

Facebook Fanpage